Loading...

Rabu, 16 Juni 2010

MENYERTAKAN PERMAINAN DALAM PROGRAM PENGAJARAN PENJAS




Menyertakan Permainan Dalam Program Anda

Anak-anak perlu untuk menguasai kemampuan untuk meraih tujuan dari berjalannya program dalam pola permainan. Kemampuan ini menyatukan sebuah porsi besar dari isi materi dalam tahun-tahun pertama. (Untuk informasi mengenai instruksi kemampuan, lihat Mengajarkan Anak-anak mengenai Konsep Gerakan dan Kemampuan oleh Craig Buschner, 1994.) Manipulasi kemampan akan menjadi krusial untuk menjadi seorang pemain yang baik yang melibatkan melempar objek, menerimanya, dan mengontrol objeknya ketika bergerak. Jadi, kombinasi dari tangkapan dan lemparan, kontrol objek, meggiring, menyerang, dan kemampuan lainnya adalah prasyarat dalam permainan. Pada permainan akhir-akhir ini, seseorang harus menguasi kemampuan ini secara mahir, atau mendekati mahir. Jika tidak, permainannya berjalan pada tempo yang lambat dan buruk. Siswa meberikan perhatian terlalu banyak pada kemampuannya dalam permainan dan lebih sedikit perhatian dalam strategi dan bekerjasama dengan tim.

Mengategorikan Permainan

Permainan apa yang harus saya ajarkan? Ini adalah pertanyaan yang seringkali ditanyakan semua guru. Namun salahlah jika anda bertanya ini pada permulaannya. Pada dasarnya guru seharusnya bertanya mengenai dasar dari permainan atau bagaimana permainan ini dapat berhubungan dengan perkembangan siswa. Lalu guru harus bertanya mengenai apa yang ada pada permainan tersebut, bagaimana permainan tersebut dibangun, dan kelanjutan dari mengajarkan permainan tersebut. Lalu pertanyaannya menjadi, bagaimanakah saya dapat mengajarkan permainan yang konsisten dengan rasionlaitas berdasarkan jawaban yang saya dapatkan dari pertanyaan tersebut? Dan jika pemain mencoba untuk menjadi pemain yang lebih baik, permainan seperti apa yang harus mereka pelajari.
Ini adalah pertanyaan yang sulit, terutama yang terakhir. Permainan seharusnya terfokus pada pengambilan keputusan, strategi, dan pengaplikasian manipulasi kemampuan. Lima kategori dalam permainan akan ditunjukkan dalam buku ini, salah satunya adalah permainan tepukan. Empat yang lainnya diaukan oleh Thorpe, Bunker, dan Almond (1986) dan diperluas oleh Werner dan Almond (1990). Kategori ini termasuk target; jaring dan dinding; invasi; dan permainan lapangan. Tanpa cara mengkategorikan permainan, guru akan lebih mudah untuk memilih dan mengajar dengan susunan yang acak. Kategori ini memberikan kesempatan bagi guru untuk merencanakan peningkatan pada setiap kategori permainan termasuk strategi yang dapat berpindah pada aktivitas serupa.

Permainan Tepukan

Instruksi pada permainan ini berawal dengan mengejar, melarikan diri, dan menghindar (Buschner, 1994); kontrol terhadap objek ditambahkan pada permainan selanjutnya, permainan tepukan sederhana dan sangat berguna bagi pembelajaran strategi. Tujuannya adalah untuk bergerak, mengubah arah, dan menghindari tepukan seseorang atau yang lainnyaagar tidak kehilangan kontrol terhadap objek atau menghindari tepukan atau tidak memberikan yang lain kesempatan untuk merebut objek yang berada dalam tangan kita. Pada buku ini kategorinya jauh lebih dibatasi dari konsepsi populer mengenai permainan tepukan. Permainan kejar-kejaran mengandung banyak gerakan dan tujuan strategi. Banyak permainan kejar-kejaran yang populer (misalnya, tepuk patung, atau tepuk jongkok) tidak disertakan. Juga tidak disertakan permainan seorang penjaga dan 30 orang anak berlari untuk menghindari eliminasi karena tepukan.

Permainan Target

Aktivitas dan permainan yang terfokus pada target menekankan akurasi dalam mengirim objek pada area tertentu. Permainan melibatkan kemampuan dalam menembak target , permainan bergerak, namun contoh populer dibatasi atau hal yang membuat si pengirim tidak melkukan gerakan (bowling, golf, dan memanah). Contoh yang lebih sederhana yang melibatkan, serangan, tendangan, dan lemparan menuju target. Banyak permainan target juga sedikit membatasi gerakan tubuh, lari, dan menghindar. Pada permainan target seperti lemparan bebas, golf, panahan, dan berkuda, partisipan yang menentukan kapan harus memulai aktivitas dan mengontrol tempo. Banyak dari empat yang lainnya memerlukan partisipan untuk menyesuaikan kemampuan dan strategi setelah aktivitas dimulai. Permainan target cenderung memiliki lingkungan yang terbatas, dimana permainan lainnya memiliki ruang yang lebih terbuka, mengubah lingkungan sekitar.

Permainan Jaring dan Dinding

Permainan jaring dan dinding melibatkan gerakan dan kontrol terhadap objek dan membuatnya menjadi sulit bagi orang lain untuk menguasai atau mengirim objek kembali kebelakang dinding atau melintasi jaring. Tennis dan bola voli adalah contohnya; segi empat adalah contoh sederhananya. Permainan jaring dan dinding, bahkan bagi orang dewasa, seringkali hanya memerlukan sedikit orang daripada permainan serangan. Hanya 2 samapi 4 orang dibutuhkan untuk kebanyakan permainan sejenisnya, dan raung lebih kecil yang dibutuhkan oleh permainan seperti ini daripada permainan serangan.
Pemain pada permainan jaring dan dinding mengontrol area yang tetap. Mereka bergerak sesuai posisi terbaik untuk menutup serangan balik dari lawan. Seringkali hal ini berarti kembali pada posisi yang baik daripada bergerak menuju posisi yang baru. Pemain bertahan pada permainan jaring dan dinding menyesuaikan posisi mereka terhadap lokasi serangan dan bolanya.

Permainan Serangan

Permainan serangan terfokus pada mengontrol objek pada area yang lebih spesifik. Termasuk permainan menjauh dimana 2 orang atau lebih berusaha untuk mengontrol objek ketika 1 atau lebih pemain lainnya mencoba untuk mencuri objek bergerak tersebut atau menghalangi pemain yang menguasai objek tersebut. Lebih rumitnya, sekelompok pemain mencoba untuk mengontrol bola atau objek dan bergerak maju menuju batas gawang atau tujuan untuk menyerang kelompok lainnya. Saat ini terjadi, satu kelompok memiliki keuntungan; kelompok yang memegang bola dan cenderung disebut dalam posisi menyerang. Seringkali kelompok yang menyerang berkaitan dengan mencetak angka, maka saya melabeli kelompok ini dengan “ahh!fence” karena menembak dan mencetak angka lebih menginspirasi. Kelompok lainnya menjaga batasan gawangnya atau cenderung disebut bertahan. Para pemain bertahan membentuk halangan bagi tim penyerang, maka saya menyebutnya “da fence” (dan gambar suatu pagar (fence) kayu putih). Figure 3.1. mengilustrasi konsep ini.

Permainan Lapangan

Pada permainan lapangan objek dikirimkan menuju suatu area dan pengirimnya mencoba untuk berlari ke arah lainnya, dan mungkin kembali, sebelum pemain lainnya dapat meraih objek tersebut dan mengirimkannya ke suatu tempat. Aturan pada permainan ini secara spesifik ditujukan bagi orang dewasa, seperti permainan cricket dan baseball, yang cenderung rumit.
Dalam permainan yang sederhana, permainan ini dapat dibatasi pada bermain di lapangan dan berlari dan dapat menyerupai permainan tepukan. Terdapat penempatan posisi yang patut dipertimbangkan di lapangan dalam kaitannya dengan ke arah mana seorang pemain atau rekan akan ditempatkan. Belajar untuk membalas lemparan juga merupakan hal penting dalam permainan lapangan. Secara resmi permainan seperti ini melibatkan 9 pemain atau lebih pada setiap tim. Jumlah ini menunjukkan masalah pada praktek olahraga di sekolah dasar karena siswa menghabiskan banyak waktu menunggu dan hanya memiliki waktu sedikit untuk berlatih. Pada sebuah analisis pada permainan tendang bola di kelas empat, Wilson (1976) menemukan besarnya waktu menunggu; sangat sedikit giliran bagi kebanyakan siswa, khususnya perempuan, dan dominasi yag tinggi oleh guru. Masalah tendang bola tersebut (Wilson, 1976) juga muncul pada permainan kelompok besar pada softball, baseball, dan cricket. Meskipun permainan kelompok yang lebih kecil jug direkomendasikan, masalah mengenai objek yang bertentangan dengan ruang gerak kelompok lainnya harus diminimalisir.

Figure 3.1. “ahh! Fence” dan “da fence”

Belajar Strategi dalam Permainan

Belajar mengenai strategi dalam permainan berbeda dari belajar mengenai kemampuan gerak. Seringkali selama permainan berlangsung, guru terfokus pada bagaimana siswa tampil dalam kemampuannya, namun fokusnya seharusnya lebih kepada strategi. Jika seorang guru sadar bahwa permainan kwalitas rendah umumnya disebabkan oleh kemampuan, beberapa pilihan muncul. Seorang guru dapat (a) melanjutkan aktivitas sejenak agar siswa dapat menemukan idenya secara umum, (b) kembali pada tingkat kedua dan berikan siswa kesempatan untuk berlatih tanpa dibebani strategi, atau (c) ubah kemampuan menjadi hal yang lebih sederhana maka siswa dapat berkonsentrasi pada strategi.
Strategi memutuskan kapan harus melakukan hal agar mencapai sebuah tujuan. Terkadang istilah taktik digunakan untuk menunjukkan pengambilan keputusan yang bersifat kognitif. Pengetahuan mengenai taktik, atau ide kognitif mengenai apa yang harus dikerjakan dan kapan harus dilaksanakan, adalah sebuah strategi. Stratgei seperti apakah yang dasar dan harus didulukan? Yang mana yang paling mudah untuk dipelajari? Yang mana yang lebih sulit? Bagi yang mahir? Pada bagian selanjutnya, strategi didaftar untuk kelima jenis permainan. Contoh yang diberikan terbatas pada taktik dasar.



Strategi Untuk Permainan Tepukan

Strategi yang sanagt dasar akan dijelaskan pada kategori permainan yang satu ini karena permainan ini sangat sederhana. Strateginya dibuat berdasarkan kategori dibawah ini, yang sudah sangat umum bagi siswa:
1. Tetap seimbang setiap saat, dan siap untuk bergerak ke arah manapun.
2. Gunakan berbagai tipuan untuk menepuk dan menghindari tepukan.
3. Ubah arah dan berlari secepatnya untuk menghindar.
4. Awas terhadap apa yang akan terjadi disegala sisi.
Siswa telah berlatih sebelumnya mengenai banyak strategi tanpa aplikasinya kepada permainan tepukan. Dalam menangkap, siswa melatih keseimbangan dan menahan posisi, juga mempertahankan posisi sigap untuk menerima objek. Tetap seimbang, dengan bobot pada bagian depan kaki, yang dibuka selebar bahu, adalah sebuah keharusan pada parmainan tepukan untuk menepuk dan menghindari tepukan pemain lainnya (lihat Figure 3.2.). Mengikuti pergerakan seseorang untuk melakukan hal yang tidak ia lakuakn adalah laithan yang baik untuk mengelabui. Siswa harus mampu untuk betindak seolah-olah mau bergerak de stu atah dan akhirnya bergerak ke arah lainnya, dengan beberapa bagian tubuh atau seluruh tubuh.
Sesungguhnya mengelabui lawan terjalin atas perubahan arah dan kecepatan untuk menghindar. Strategi yang terpenting disini adalah untuk melihat bagian tubuh tengah ke bawah orang tersebut daripada melihat ke bagian tubuh atas. Kepala umumnya digunakan untuk mengelabui lawan. Pada permainan tepukan, dan pada akhirnya di cabang permainan lainnya, bersikap awas dan memperhatikan berbagai sisi adalah hal yang penting. Permainan tepukan yang sederhana akan ideal untuk melatih keawasan seseorang.

Figure 3.2. posisi siaga pada permainan tepukan

Strategi Untuk Permainan Target

Pada permainan target pemain merencanakan apa yang akan dilakukan dan kapan akan memulainya. Karena tempo permainannya tergantung orang itu sendiri, maka pengambilan keputusannya memiliki perbedaan dengan yang lainnya dimana segala sesuatunya berubah secara cepat, menyebabkan perubahan reaksi yang instan. Strategi dasar termasuk:
1. Memerlukan waktu untuk berada dalam keadaan santai dan seyakin mungkin.
2. Tidak perlu terburu-buru; tetapkan kapan anda akan memulai
3. Nilai kemampuan anda sendiri dan situasi untuk memutuskan untuk mencoba akurasi yang baik atau bermain lebih aman.
4. Konsentrasi sejelas mungkin; fokus.
Strategi utama untuk permainan target adalah untuk menggunakan akurasi yang terbaik atau bermain lebih aman. Pada pelajaran olahraga tingkat sekolah dasar, satu strategi digunakan untuk memutuskan untk mencetak angka lebih banyak pada target yang lebih mudah atau angka yang lebih sedikit pada target yang lebih sulit (liahta Figure 3.3.) Siswa harus mampu membandingkan nilai poin dengan tingkat kesulitan mana untuk membuat keputusan strategis. Strategi lainnya melibatkan pertahanan terhadap tembakan bebas; yang kedua pemain mencoba untuk mencetak angka dan pemain bertahan memperhatikan mereka secara hati-hati untuk mengantisipasi pergerakan dari yang lainnya.



Strategi Untuk Permainan Jaring dan Dinding

Pada salah satu cara, permainan jaring dan dinding lebih sederhana: ruang bermainnya lebih konstan, jaring dan dindind menyediakan titik tembak, dan penempatan posisi menjadi sangat penting. Terdapat beberapa aturan dasar bagi penempatan posisi dan penempetan ulang, area bermain akan dengan mudah divisualisasikan. Dibawah ini adlah 5 strategi pada permainan jaring dan dinding:
1. Kirimkan objek ke arah dinding atau melintasi jaring ke ruang yang paling terbuka.
2. Memulai setiap pergerakan kembali pada posisi terbaik untuk menutup ruang.
3. Menggatni pola permainan agar lawan tidak dapat dengan mudah mengantisipasti apa yag akan terjadi.
4. Bagi ruang tutup dengan rekan setim.
5. Berkomunikasi dengan rekan setim agar dapat bekerjasama.
Meskipun kelima strategi diatas penting bagi pemula, versi rumit dari kelima strategi diatas pun akan sama pentingnya bagi permainan dengan level yang lebih tinggi. Selama masa setelah seolah dasarm pengajaran harus difokuskan pada strategi dasar untuk mempersiapkan siswa.
Belajar untuk mengirim bola ke ruang terbuka yang tidak dapat dengan mudah ditahan adalah kunci untuk menjadi pemain yang baik. Merubah area dan bentuk ruang bermain akan membantu siswa mempelajari kosep ini. Dalam ruang yang luas, memancing seseorang untuk kembali akan sangat penting; secara khusus, pesempit ruang bermain, membuat lawan untuk bergerak menjauh dan medekat adalah strategi terbaik (lihat Figure 3.4.). Pemain harus menyesuaikan strategi dasarnya sesuai dengan posisi lawan dan ke arah mana lawan akan bergerak. Sebuah tim akan mengontrol permainan jika dapat membuat lawannya berlari ke berbagai arah untuk mendapatkan bolanya.
Dalam kebanyakan permainan jaring dan dinding, pemain perlu untuk memposisikan diri mereka untuk posisi tahan terbaik dan mengikuti aturan umum untuk bergerak menuju tengah area. Meskipun begitu, menentukan pergerakan pun haruslah sesuai dengan arah dimana lawan akan meletakkan bola dan dari mana asalnya. Untuk menyesuaikan posisinya dengan pengembalian bola yang mungkin terjadio, pemain harus menganalisa apa yang akan terjadi dan menyesuaikan posisinya. Jika seorang pemain berada dalam posisi salah, satu-satunya strategi yang tersisa adalah menebak darimana bola berasal dan berharap bahwa tebakan anda tepat.
Dalam permainan jaring dan dinding, mengganti apa yang akan dilakukan sangatlah penting. Ini berarti mengganti bagaimana seseorang mengirim bola agar lawan tidak dapat dengan mudah mempredikisi apa yang akan terjadi. Pemain seharusnya merencanakan dan menlakukannya (dengan beberapa tipuan tentunya) dengan pukulan, tendangan , atau lemparan yang berbeda. Lalu lawan tidak dapat mengatur posisi yang menguntungkannya agar dapat membuat pengembalian yang mudah. Mereka tidak dapat memprediksi dengan baik dan harus menunngu atau menebak. Dalam pelajaran kemampuan kombinasi, penekanan seharusnya pada perbedaan variasi cara mengirim dan menerima objek, termasuk perubahan pada arah, berat, kecepatan, dan serangan. Lebih banyak kombinasi dan variasi yang dapat dilakukan oleh seorang pemain, akan lebih banyak pilihan yang dia dapatkan pada permainan jaring dan dinding.
Tiga strategi dasar yang awal - mengirim objek menuju area terbuka, memposisikan diri anda, dan mengganti pola bermain - dapat dilakukan pada permainan berregu juga dapat dilakukan dalam kelompok. Dengan catatan, dua strategi yang lainnya tidak diperlukan bagi permainan berkelompok. Salah seorang akan membagi ruang tutup dan menggunakan ruang dengan 1 atau lebih rekan, yang juga merupakan tambahan dari strategi kedua. Terdapat lebih banyak batasan dan kewajiban untuk ruang yang digunakan saat pemaian memiliki 1 atau lebih rekan. Rekan setim harus menentukan dimana mereka dapat bermain dengan ruang tutup terbaik. Mereka perlu untuk bermain pada areanya masing-masing dan tidak mengambil area rekan setimnya jika rekannya dalam posisi siap untuk bermain. Saat seorang rekan bermain dengan bolanya, rekan lainnya harus memposisikan diri untuk mendukung pemain tersebut jika terjadi kesalahan atau untuk menghasilkan pertahanan terbaik. Khususnya pada permainan seperti bola voli, pemain harus merubah posisi berdasarkan tim mana yang memegang bola dan menuju mana bola seharusnya dikirimkan melewati jaring. Mengajarkan siswa untuk secara berkala memposisikan diri dan merubah posisi selama permainan adalah sulit dan memerlukan proses yang lama.
Strategi rekanan yang kedua terhubung dengan pengambilan posisi, adalah, berbicara dengan rekan agar mereka tahu apa yang akan dilakukan satu sama lain. Dengan melakukan tembakan awal dan strategi lainnya, perubahan ini dapat menyebabkan pertemuan pribadi sebelum dan sesudah permainan dimulai. Cara termudah berkomunikasi adalah mengenai siapa yang akan bermain dengan bola, tapi ini sering kali harus diputuskan saat permainan berlangsung. Siapa yang akan bermain bola di dalam ruang antara 2 pemain batas adalah suatu masalah. Lebih banyak pesan lain harus dikirim sebelum dan selama bermain game - seperti bahwa sebuah tim yang mendukung, di mana orang itu diposisikan, atau apakah untuk memainkan bola atau membiarkannya pergi luar-dari-batas. Komunikasi semacam itu tidak mudah untuk dicapai. Dibandingkan memberitahu anak-anak di mana harus bermain, struktur pembelajaran sehingga anak-anak membuat keputusan ini - atau setidaknya menilai apakah mereka sudah mengevaluasi di mana mereka berada dan apa yang mereka lakukan adalah berguna atau perlu perbaikan.


Strategi – Strategi untuk Permainan Serangan
Kemampuan untuk menghindari dan mengubah arah dengan cepat dengan tetap menjaga keseimbangan seseorang sangat penting dalam permainan serangan. Anak-anak dapat mempelajari keterampilan ini dengan berpartisipasi dalam tari, senam, dan permainan tag. Dan banyak dari strategi dasar sampai jaring dan permainan dinding dapat digunakan dalam permainan serangan. Dalam permainan serangan, arena bermain yang benar-benar mengubah pada waktu dan dengan cara-cara yang tidak terduga. Mungkin kurang akurasi dalam pengiriman barang-barang yang dibutuhkan dari permainan jaring karena teman kelompok yang bergerak dan dapat tertutup oleh akurasi yang lebih rendah dengan cepat atau lambat. Dalam setiap kasus, perpindahan ketetapan pemain dalam menyerang dan bertahan memerlukan strategi yang berbeda dari yang digunakan untuk permainan jaring dan dinding. Banyak jenis permainan serangan, berbagai jenis peralatan, dan penekanan pada kombinasi menendang, menggiring bola, melempar, menangkap, dan mencolok mengakibatkan banyak variasi peraturan dan keterampilan.
Berikut adalah lima strategi yang dasar dalam permainan serangan:
1. Menciptakan ruang terbuka dan reposisi untuk memperoleh keuntungan
2. Menjaga ruang dan reposisi untuk menyangkal atau menutup ruang
3. Menjaga lawan untuk menyerang dengan gerakan mereka atau manipulasi objek
4. Memindahkan objek ke dalam ruang yang lebih menguntungkan untuk menjangkau daerah-daerah tertentu, atau untuk mendapatkan poin
5. Berkomunikasi dengan dan menggunakan rekan secara efektif

Sangat mudah untuk mengasumsikan bahwa anak-anak tahu dan bisa melakukan strategi atau yang menyebutkan mereka sekali sudah cukup untuk mengajar mereka. Tapi saat tekanan dalam mengajarkan permainan merubah dari aturan dan peraturan – peraturan menjadi strategi, guru – guru menyadari betapa kompleks bermain permainan.
Dalam strategi pertama, menciptakan ruang membutuhkan satu posisi diri mereka sendiri dan kemudian secara berkesinambungan reposisi untuk mendapatkan dan mempertahankan manfaat. Sekolah dasar anak-anak dapat mulai belajar ini dengan pindah ke ruang terbuka, ruang berbagi, dan melindungi diri dari orang lain. Dalam permainan serangan, pura-pura menarik pada satu lawan jalan dan kemudian yang lain akan berlaku efektif. Anak-anak dan pemain yang tidak berpengalaman memposisikan diri mereka hampir di mana saja dan kemudian tinggal di sana, berharap untuk kesempatan untuk menangkap bola atau objek yang diinginkan. Pindah untuk menjadi terbuka adalah penting. Pindah saat seseorang tidak memiliki bola itu adalah konsep yang sulit untuk mengerti dan bahkan lebih sulit untuk dilakukan saat permainan (lihat Gambar 3.5). Sangat penting untuk serangan berubah arah dengan tiba – tiba dan pada sudut yang sangat tajam, terutama jika pertahanan akan berada pada kecepatan konstan dalam satu arah.
Untuk strategi kedua, kelompok pertahanan berusaha untuk mengurangi ruangan yang terbuka, untuk melawan atau menutup ruang dengan menempatkan dan reposisi. Satu arah adalah untuk pemainnya untuk menjadi halangan, atau pagar, yang menyebabkan pemain menyerang menjadi lambat, merubah arah, dan mengambil waktu lebih untuk mencapai tujuannya. Dalam permainan, mendapatkan penghargaan ini mungkin cukup untuk membuat pesuruh mengoper. Atau hal itu akan mengahancurkan aliran tersebut dan waktu penyerangan yang hanya cukup, contohnya, untuk menjaga mereka agar tidak mendapatkan keuntungan untuk mencetak angka, menekan mereka untuk mengoper bola lebih sedikit, atau bertentangan dengan alur operan. Pemain bertahan harus bergeak dan memposisikan dirinya pada aturan permainan dengan menuju area dan mengatur posisi di depan lawan mencapai posisi anda. Ini adalah memposisikan diri di depan lawan; pemain bertahan juga, sebagai strategi umum, mencoba untuk berada dianatara lawan dan gawang. Pemain bertahan, layaknya pemain menyerang, perlu untuk memposisikan diri dalam hubungan tidak hanya dengan pemain yang sedang dijaga, namun juga posisi pemain menyerang lainya dengan lokasi bola.
Berkaitan dengan posisi bertahan seperti strategi ketiga, menjaga lawan. Pemain bertahan tidak boleh hanya menjaga jarak; mereka juga harus mengembangkan strategi untuk menjaga satu pemain atau yang lainnya. Dengan juga memposisikan diri diantar pemain menyerang dengan gawang, pemain bertahan juga harus membuat keputusan yng tepat mengenai jarak berkaitan dengan sejauh apa jarak dengan bola atau gawang dngan si pemain menyerang. Terdapat tiga pilihan cara bertahan (a) menjaga sedekat mungkin agar pemain menyerang mengalami kesulitan (a la “da fence”), (b) mencoba untuk mencuri bola saat ada kesempatan untuk melkukan ini, atau (c) bergerak mendekat di depan lawan agar ia kesulitan, bahkan untuk sekadar menerima operan. Mengganti apa yang dilakukan seseorang, seperti menggunakan tipuan, mengubah kecepatan, dan melakukan kontak fisik dengan lawan membuat pemain bertahan sulit diprediksi dan sulit untuk ditaklukkan. Pemain bertahan juga harus mampu untuk mengurangi jarak antara seseorang dengan pemain menyerang secara cepat dan kemudian memperlambatnya saat ia telah mendekat agar orang yang memegang bola tidak dapat menghindar dengan mudah. Ini adalah strategi bertahan yang sederhana yang dapat digunakan anak-anak untuk menjadi pemain yang lebih baik.
Penjaga gawang memiliki kemampuan khusus dan strategi yang harus dipelajari. Ia menjaga pertahanan dengan membentuk badannya menjadi lebar, tinggi, dan tangguh; kemampuan untuk membuat reaksi secara cepat pun akan sangat penting. Seorang penjaga gawang harus mampu berada dalam arah yang seringkali menjadi sasaran tembak dan memutuskan kapan akan bergerak menuju si penyerang. Ketika pemain bertahan menyuplai bola kepada penjaga gawang, pemain ini harus memberitahukan pemain betahan ini kapan untuk bergerak dan siapa yang harus dijaga. Ketika tidak ada rekan yang dapat membantu, si penjaga gawang perlu bergerak maju menuju si penyerang yang memegang bola, yang mungkin menembak secara lemah atau terburu-buru danmemotong arah tembakan. Ini akan sangat sulit bagi pemula untuk memahaminya dan melakukannya. Dalam beberapa hal, penjaga gawang memiliki kemampuan khusus dan strategi untuk dipelajari.
Strategi keempat, mengontrol dan memindahkan objek ketika orang lain mencoba untuk mengambil objek tersebut dari anda, lakukan tantangan yang menarik, khususnya ketika kedua pemain memiliki kemampuan yang seimbang. Mengganti-ganti cara seseorang mengoper, menerima bola, menggiring, menipu, memposisikan diri, dan terfokus secara visual ditambahkan kepada kemampuan menyerang seseorang dan meningkatkan kemampuannya jika operan yang dikirimkan akurat dan menuju pada rekan yang terbuka. Pemain yang memegang bola seharusnya mengikuti prioritas langkah yang direkomendasikan: Pertama, coba untuk mencetak angka ketika memiliki kesempatan untuk mencetak angka; kedua, oper bola kepada rekan yang berada pada posisi lebih baik untuk mencetak gola atau menuju rekan yang lebih terbuka jika salah satunya sedang dalam penjagaan; ketiga, bergerakn dan mengontrol bola sendiri seperti menggiring bola, ketika mencari rekan dalam posisi terbuka. Jika anak terfokus pada aturan ketiga tanpa mencoba untuk mengoper, permainan menjadi lebih sulit atau anak tersebut memerlukan instruksi lebih jauh mengenai mengapa langkah ini diprioritaskan.
Arah kemana arah bola menuju pun penting. Luxbacher (1991) merekomdasikan agar menggerakkan bola langsung menuju arah gawang dan dalam garis lurus, jika memungkinkan. Akan lebih baik untuk menggerakkan bola kea rah dalam daripada menggerakkan bola kea rah luar dan menjauhi gawang, karena dengan cara tersebut bola akan bergerak mendekati gawang. Strategi ini adalah dua cara yang paling langsung untuk membuat objek tersebut berada dalam posisi yang dekat dengan gawang dan pemain bertahan pastinya akan menghalanginya.
Berkomunikasi dengan dan menggunakan rekan setim secara efektif pun penting dalam mengontrol dan memindahkan bolanya. Rekan setim harus memberitahukan apa yang akan mereka lakukan dan apa yang mereka ingin rekannya untuk lakukan. Pesan secara verbal pun diperlukan, sepenting pesan visualnya, termasuk gerakan tubuh. Memberikan tanda untuk mengindikasikan apa yang akan dilakukan memberikan penyerang keuntungan. Pemain bertahan juga menggunakan pesan dan tanda verbal dan non verbal. Jika guru menganggap komunikasi sebagai sebuah awal dan langkah yang krusial dalam bekerjasama, instruksi dalam permainan akan berubah sesuai pertimbangan dari penekanan tradisional mengenai aturan. Jika siswa tidak ingin untuk berbagi secara verbal, saya ragu mereka akan mebagi bola, belajar mengenai strategi, atau meningkatkan kerjasama tim.
Komunikasi dengan rekan setim mungkin lebih penting bagi pertahanan. Memberitahukan dimana seseorang, bahwa seseorang dating, siapa menjaga siapa, atau kemana seseorang seharusnya bergerak adalah contoh komunikasi yang mungkin terjadi dalam bertahan. Pemain bertahan juga dapat membantu rekan lainnya dalam menjaga jarak bola dari tengah dan depan gawang. Memaksa bola bergulir kearah luar dan mendekat kearah sisi lapangan agar memberikan rurang yang kecil. Jika rekan kita bergerak untuk menjaga bola, orang lainnya dapat membantu dengan bergerak mundur sedikit, mencoba untuk mencuri operan (lihat Figure 3.6.). Memposisikan diri untuk memperlambat penyerangan sambil menunggu rekan meuju kesanan dan menolong adalah salah satu cara yang dapat dilakukan pemain bertahan untuk mnolong rekan lainnya.
Anak-anak juga perlu untuk menjalankan apa yang telah mereka pelajari, mereka akan lebih cenderung untuk melakukannya walaupun mereka telah memahami konsepnya secara rasional. Jika siswa memahami bahwa menyebar dan menggunakan ruang yang tersedia memiliki keuntungan, mereka akan melakukannya. Ketika seorang pemain mengoper kepada pemain lainnya yang bergerak dan meminta bola, hal tersebut akan memberikan kesempatan bagi orang lai untuk mengoper bola pada orang yang mengoper sebelumya. Dukungan yang datang dari pola menyebar perlu didiskusikan dan didukung, untuk penyerangan dan pertahanan. Anak perlu utnuk memahami bahwa memposisikan pemain pada sudut dan pada bentuk sgitiga membantu batasan ruang, memberikan garis operan, dan membentuk komunikasi (lihat Figure 3.6.).
Strategi dasar untuk permainan penyerangan lumayan komprehensif. Guru perlu untuk menganalisa strategi yang dibutuhkan untuk diajarkan dan memilih permainan yang terfokus pada strategi tersebut. Atau uru (atau siswa) perlu menekankan satu atau dua strategi pada permainan tertentu dan memperluas strategi ini sebagai pengembangan kemampuan.

Figure 3.6. komunikasi efektif dengan rekan setim memungkinkan pemain untuk menahan arah operan lawan

Strategi Untuk Permainan Lapangan

Banyak strategi untuk permainan tepukan dan permainan serangan dapat digunakan untuk permainan yang berdasarkan penggunaan lapangan dan lemparan, lari, serangan, dan tendangan. Maka hanya sedikit strategi yang dapat digunakan pada permainan lapangan yang akan ditekankan disini. Strategi dasar permainan lapangan diantarany:
1. Mengirim objek menuju ruang terbuka.
2. Posisi untuk area tutup terbaik pada ruang main.
3. Reposisi untuk menolong rekan setim.
Pemukul dan penendang perlu mengirim bola menuju ruang terbuka, hanya seperti permainan serangan dan jarring dan dinding. Intinya, adalah untuk mengirim bola rendah, keras dan lurus agar pemain akan kesulitan dalam menangkapnya. Pemian juga mungkin untuk memukul bola kepada penjaga untuk berlari, seperti memukul sejauh-jauhnya.
Penempatan posisi untuk jangkauan terbaik memerlukan penjaga, seperti permainan serangan, untuk menentukan dimana harus dimulai agar melakukan jangkauan terbaik, tergantung pada apa yang akan dilakukan pemukul. Semua contoh permainan lapangan ini menyuruh anak-anak untuk berpikir dan merencanakan bagimana untuk menentukan posisi secara efektif.
Penempatan posisi pada permainan penyerangan dapat diterapkan pada ruang terbuka maupun tertutup. Dalam permainan lapangan, penempatan posisi ulang dilakukan pada porsi utama untuk mendukung rekan setim atau untuk menutup suatu area dari rekan setim yang memindahkannya. Berbagai situasi memerlukan dukungan seperti ini. Perkembangan tingkat kesulitan dapat dilihat dari membandingkan permainan 300 dan peraturan dalam baseball. Pada kebanyakan permainan lapangan bagi orang dewasa, hamper setiap lemparan memerlukan dukungan bagi penerimanya.

Rangkuman

Permainan ini melibatkan pembelajaran mengenai strategi dan komunikasi dan kerjasama dengan rekan setim. Anak-anak perlu untuk mengembangkan kemampuan yang menjadi prasyarat maka mereka dapat memfokuskan diri pada strategi dan kesulitan dalam permainan. Pada buku ini, permainan diklasifikasikan dalam permainan tepukan, target, jarring dan dinding, serangan, dan lapangan. Setiap permainan memiliki strategi spesifik yang dipelajari bersamaan dengan mempelajari kemampuannya. Untuk menyelesaikan ini, harus ada peningkatan pada pembelajaran strategi juga.
Strategi dasarnya dijelaskan pada setiap kategori permainan. Kategorinya memiliki kesamaan dan perbedaan pada strategi. Strategi pada setiap kategori terintegrasi dan mendukung satu sama lain; mereka bukanlah konsep yang terisolasi. Strategi pada bagian ini diulas membentuk basis bagi instruksi pada awalan penyerangan dan pertahanan dalam permainan pada pelajaran olahraga sekolah dasar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar